Kamis, 24 Maret 2016

Pengetahuan Lingkungan Menurut Jurnal Luar Negeri


 Pengetahuan lingkungan menurut beberapa ahli dapat disimpulkan bahwa pengetahuan akan keadaan dan situasi dimana kita hidup, misalnya adalah pengetahuan lingkungan industri, pengetahuan akan keadaan industri, pengetahuan lingkungan industri juga dapat diterjemahkan dalam arti luar negeri.



INTRODUCTION TO ENVIRONMENTAL ENGINEERING

               Environmental engineering is the application of science and engineering principles tomanage and improve the environment. As such, topics discussed in relation to theenvironment normally include water, air and land resources. Sustainable development aimsat providing healthy water, air and land for human habitation, for other organisms tosurvive, and to remediate polluted sites as well.Human interaction with the environment could give rise to an impact on the environmentand sometimes is being adversely impacted by pollutants in the environment. A largeamount of data will have to be interpreted in the light of the need for sustainabledevelopment. As such, environmental engineers will have to be conscious of and find viableways to cope with such a situation.Environmental crisis is a crisis of the senses, imagination, and use of pertinent tools, thatguide us in our ways of thinking, developing concepts, and postulating theories. In thecontext of sustainable development, aspect and impact factors affecting the environmentare of prime importance in discussing the future of sustainable development. As such, anydecision making process on environmental management must be based on both thesefactors.

THE ENVIRONMENT

               Simply stated, the environment is one’s surroundings. To the environmental engineer, theword environment may take on a wide definition and requires a global perception. It shouldnot be a narrow definition dealing only with liquid, gaseous or solid materials within atreatment plant reactor, but it should go beyond that.Global environment comprises the atmosphere, hydrosphere, and lithosphere in which lifesustaining resources of the earth are contained. The atmosphere , a mixture of gasesextending outward from the surface of the earth, evolved from the elements of the earththat were gasified during its formation and metamorphosis. The hydrosphere consists of oceans, lakes, streams, and shallow groundwater bodies that interflow with surface water.The lithosphere is the soil mantle that wraps the core of the earth.
               The biosphere, a thin shell that encapsulates the earth, is made of the atmosphere andlithosphere adjacent to the surface of the earth, together with the hydrosphere. It is withinthe biosphere that the life forms of earth, including humans, live. Life sustaining materials in gaseous, liquid, and solid forms are cycled through the biosphere, providing sustenanceto all living organisms.

PENGANTAR TEKNIK LINGKUNGAN

               Teknik lingkungan adalah penerapan prinsip-prinsip ilmu pengetahuan dan teknik untuk mengelola dan memperbaiki lingkungan. Dengan demikian, topik yang dibahas dalam kaitannya dengan lingkungan biasanya meliputi sumber daya air, udara dan tanah. Pembangunan berkelanjutan bertujuan menyediakan air yang sehat, udara dan tanah untuk tempat tinggal manusia, untuk organisme lain untuk bertahan hidup, dan untuk memulihkan situs tercemar interaksi. Manusia dengan lingkungan bisa menimbulkan dampak pada lingkungan dan kadang-kadang sedang terpengaruh oleh polutan di lingkungan. Sejumlah besar data harus ditafsirkan dalam terang kebutuhan untuk pembangunan berkelanjutan. Dengan demikian, insinyur lingkungan akan harus sadar dan menemukan cara yang layak untuk mengatasi seperti krisis situasi. Lingkungan adalah krisis indra, imajinasi, dan penggunaan alat-alat yang bersangkutan, yang membimbing kita dalam cara kita berpikir, mengembangkan konsep, dan mendalilkan teori. Dalam konteks pembangunan berkelanjutan, aspek dan dampak faktor yang mempengaruhi lingkungan adalah yang terpenting dalam membahas masa depan pembangunan berkelanjutan. Dengan demikian, setiap proses pengambilan keputusan tentang pengelolaan lingkungan hidup harus didasarkan pada kedua faktor ini.
 
LINGKUNGAN
 
               Secara sederhana, lingkungan adalah lingkungan seseorang. Untuk insinyur lingkungan, lingkungan kata dapat mengambil definisi yang luas dan membutuhkan persepsi global. Ini tidak harus menjadi definisi yang sempit hanya berurusan dengan bahan cair, gas atau padat dalam reaktor pabrik pengolahan, tetapi harus melampaui lingkungan that.Global terdiri dari atmosfer, hidrosfer, litosfer dan di mana kehidupan mempertahankan sumber daya bumi yang terkandung . Atmosfer, campuran gas memperluas keluar dari permukaan bumi, berevolusi dari unsur bumi yang gasifikasi selama pembentukannya dan metamorfosis. hidrosfer terdiri dari lautan, danau, sungai, dan badan air tanah dangkal yang bersatu dengan air.Permukaan litosfer adalah mantel tanah yang membungkus inti bumi.
               Biosfer, kulit tipis yang merangkum bumi , terbuat dari atmosfer dan litosfer berdekatan dengan permukaan bumi, bersama-sama dengan hidrosfer. Ini adalah dalam biosfer bahwa bentuk kehidupan di bumi, termasuk manusia, hidup. Bahan hidup mempertahankan di gas, cair , dan bentuk padat bersepeda melalui biosfer, memberikan rezeki untuk semua organisme hidup.
 
There  is  no  question  that  increased  knowledge must  play  an  essential  role  in  solving  humanity’s environmental problems. Knowledge can help limit and reduce population size (Ehrlich and Holdren, 1971; Ehrlich and Ehrlich, 1990), change patterns of overconsumption (Ehrlich et al.,1997), and develop more environmentally benign technologies (World Commission on Environment and Development, 1987; Holdren, 1990; Kane, 1996). These connections between knowledge and the   environment   are   relatively   uncontroversial. Some   recent   analyses   suggest,   however,   that knowledge-growth   may   alleviate   environmental problems  in  a  way  that  is  largely  unprecedented. Although   history   provides   numerous   examples where  industrialization  has  produced  unfortunate environmental   consequences,   some   argue   that knowledge-growth  will  assure  high  levels  of  envi-ronmental quality in the future. According to this view, the continued discovery of cleaner, low-pol-lution  production  methods  will  preserve  environ-mental  quality,  despite  increases  in  the  scale  of global  output  and  consumption. A related, but distinct view is that we no longer need to worry about the possibility that the finite-ness  of  natural  resources  will  pose  a  drag  on future economic growth. In this connection, there have  been  repeated  discussions  of  an  economic transition  to  a  services-,  or  knowledge-,  economy (Porat,  1977;  Drucker,  1993;  Chichilnisky,  1996; Chichilnisky, 1998). Chichilnisky (1998) proposed that a knowledge revolution is underway that will allow  more  economic  output  with  less  physical input.  It  is  ‘‘a  social  and  economic  revolution which matches the impact of the agricultural and industrial  revolutions,’’  one  in  which  land  andmachines  as  factors  in  production  are  being  re-placed  by  knowledge.  An  extreme  version  of  this claim  is  that  future  growth  in  technology  will virtually  eliminate  the  possibility  of  a  resource drag on the economy. The thrust of this argument can be seen in the following (Sagoff, 1997): ‘‘It is simply  wrong  to  believe  that  nature  sets  physical limits to economic growth — that is, to prosperity and  the  production  and  consumption  of  goods and     services     on     which     it     is     based.    
 (p.83) ... Although raw materials will always be nec-essary, knowledge has become the essential factor in  the  production  of  goods  and  services  (p.  90).’’ Here  we  examine  the  question  whether  knowl-edge-growth will, in some sense, save the environ-ment.   We   first   discuss   whether   a   knowledge explosion  is  in  fact  occurring,  pointing  out  along the way some basic challenges involved in assess-ing an increase in knowledge. Second, we address the question: if knowledge is growing, will it help the environment? Here we consider both the issue of whether knowledge can avoid a resource drag, and  the  question  whether  knowledge  can  over-come  the  threats  to  the  environment  implied  by increasing  global  output  and  consumption.  Fi-nally,  we  outline  policy  interventions  that  would help  society  overcome  barriers  to  producing  and acting  upon  environmentally  helpful  knowledge. As our discussion will make clear, the productive use   of   knowledge — to   serve   environmental   or other  purposes — requires  more  than  just  knowl-edge-acquisition    or    discovery.    The    acquired knowledge must be put to good use. Appropriate institutions,  such  as  new  financial  institutions  to securitize the biosphere, have a vital role in meet-ing  this  challenge.  Likewise,  public  policies,  such as   subsidies   to   research   and   development,   are crucial  for  providing  adequate  incentives  for  the creation  of  knowledge  and  for  countering  forces of  disinformation.

Sumber:  ftp://ftp.botik.ru/rented/CPRC/www/kulbaka/pdf/00000887.pdf

https://www.academia.edu/208138/TEXTBOOK_OF_INTRODUCTION_TO_ENVIRONMENTAL_ENGINEERING_EAT_103_3
 

Jumat, 15 Januari 2016

Tugas Metode Penelitian (Proposal)



PROPOSAL MAGANG


MEMPELAJARI QUALITY CONTROL
PADA PT. PERTAMINA (Persero)







Oleh :
JUWITA EKA PRATIWI
34413742




JURUSAN TEKNIK INDUSTRI
FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI
UNIVERSITAS GUNADARMA
2016
JURUSAN TEKNIK INDUSTRI
FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI
UNIVERSITAS GUNADARMA
 

MEMPELAJARI QUALITY CONTROL
PADA PT. PERTAMINA (Persero)


PROPOSAL MAGANG

Sebagai salah satu syarat untuk melaksanakan magang pada
Jurusan Teknik Industri, Fakultas Teknologi Industri,
Universitas Gunadarma


Oleh :
JUWITA EKA PRATIWI
34413742


Disetujui,
Bekasi, Januari 2016



Irwan Santoso
Dosen Pembimbing Akademik



I.          JUDUL
MEMPELAJARI QUALITY CONTROL PADA PT. PERTAMINA(Persero)
II.        PERSONALIA
2.1 PELAKSANA :  JUWITA EKA PRATIWI, 34413742
  Asisten Laboratorium Teknik Industri Dasar,
  Jurusan Teknik Industri, Fakultas Teknologi
  Industri, Universitas Gunadarma.
2.2 PEMBIMBING :              IRWAN SANTOSO
  Staf Pengajar Universitas Gunadarma.

III.       LATAR BELAKANG
Quality Control (pengendalian mutu) adalah semua usaha untuk menjamin  agar  hasil  dari  pelaksanaan  sesuai  dengan  rencana  yang  telah  ditetapkan  dan memuaskan  konsumen. Tujuan quality  control agar  tidak  terjadi  barang  yang tidak sesuai dengan standar mutu yang diinginkan (second quality) terus - menerus dan   bisa   mengendalikan,   menyeleksi,   menilai   kualitas,   sehingga  konsumen merasa puas dan perusahaan tidak rugi. Tujuan Pengusaha menjalankan QC untuk menperoleh  keuntungan  dengan  cara  yang  fleksibel  dan  untuk  menjamin  agar pelanggan   merasa   puas,   investasi   bisa   kembali,   serta  perusahaan   mendapat keuntungan untuk jangka panjang. Tugas quality  control di  garmen  yaitu  melihat  hasil  kualitas  produk pakaian  jadi, mempunyai tanggung  jawab  utama  dari  seorang  Operator  QC, mengetahui  bagaimana  cara  mengontrol  permasalahan  di  produksi,  mengetahui bagaimana  membuat penilaian  yang  baik dalam pekerjaan,  mampu  berkoordinasi dengan pihak yang terkait tentang suatu permasalahan quality dan bekerja dengan sikap  yang  ketat  dalam mengambil  keputusan  yang  baik.
Kualifikasi quality control secara  keseluruhan  dilihat  dari  berbagai  aspek  salah  satu  aspek  yang paling penting harus dimiliki quality control yaitu menguasai pengelolaan minyak pada tangka minyak. Pengelolaan minyak pada tangka minyak kilang  dapat  dipelajari melalui pendidikan  formal  dan  nonformal.

IV.       Perumusan Masalah
Adapun rumusan masalah dalam kerja praktek ini adalah sebagai berikut :
1.        Bagaimana sistem pengelolaan kilang minyak dijalankan ?
2.        Bagaimana proses kerja pengelolaan minyak dalam mengolah minyak dikilang tangki minyak ?
3.        Kendala-kendala apa saja dalam menjalankan sistem pengelolaan kilang minyak ?

V.        Pembatasan Masalah
Kerja praktek dan pengambilan data hanya dilakukan di PT. PERTAMINA(Persero) yang berlokasi di Cilacap. Pengambilan data ini dilakukan dengan cara mengamati dan menganalisa proses kerja pengelolaan minyak dalam mengolah minyak dikilang tangki minyak.

VI.       Tujuan Magang (Kerja Praktek)
Tujuan dari pelaksanaan magang (kerja praktek) ini adalah sebagai berikut :
1.        Mengamati proses pengelolaan kilang minyak pada PT. PERTAMINA(Persero).
2.        Mengetahui proses pengelolaan kilang minyak pada PT. PERTAMINA(Persero).
3.        Mengetahui kendala apa saja yang terjadi pada proses pengelolaan kilang minyak pada PT. PERTAMINA(Persero).
.
VII.     Kegunaan Magang (Kerja Praktek)
Kegunaan dari magang (kerja praktek) secara umum :
1.        Untuk menerapkan hasil studi dan perbandingan antara teori yang diterima dan dipelajari dengan realitas lingkungan kerja.
2.        Diharapkan Laporan Magang ini dapat bermanfaat bagi mahasiswa dan pembaca yang ingin mengetahui tentang otomasi industri dan perencanaan pengendalian persediaan.
3.        Sebagai bahan perbandingan dan pertimbangan bagi PT. PERTAMINA(Persero).
Kegunaan dari magang (kerja praktek) secara khusus :
1.        Dapat mengetahui proses pengelolaan kilang minyak.
2.        Dapat mengetahui proses pengelolaan kilang minyak sampai menjadi minyak jadi.
3.        Menambah wawasan dan pengetahuan dalam bidang perminyakan pada PT. PERTAMINA(Persero).
4.        Sebagai pengalaman kerja bagi penulis dan ingin mengetahui keadaan kerja yang sesungguhnya.

VIII.    Tinjauan Pustaka
8.1.      Minyak Bumi
            Minyak Bumi ialah Campuran komplek hidrokarbon plussenyawaan organik dari Sulfur, Oksigen, Nitrogen dan senyawa –senyawa yang mengandung konstituen logam terutama Nikel, Besi dan Tembaga.Minyak bumi sendiri bukan merupakan bahan yang uniform,melainkan berkomposisi yang sangat bervariasi, tergantung padalokasi, umur lapangan minyak dan juga kedalaman sumur. Dalamminyak bumi parafinik ringan mengandung hidrokarbon tidak kurangdari 97 % sedangkan dalam jenis asphaltik berat paling rendah 50 %.
Komponen Hidrokarbon
Perbandingan unsur – unsur yang terdapat dalam minyak bumisangat bervariasi. Berdasarkan atas hasil analisa, diperoleh datasebagai berikut : Karbon : 83,0 – 87,0 % Hidrogen : 10,0 – 14,0 % Nitrogen : 0,1 – 2,0 %Oksigen : 0,05 – 1,5 %Sulfur : 0,05 – 6,0 %. Komponen hidrokarbon dalam minyak bumi diklasifikasikan atastiga golongan, yaitu :
1.        golongan parafinik
2.        golongan naphthenic
3.        golongan aromatic
Sedangkan golongan olefinik umumnya tidak ditemukan dalamcrude oil, demikian juga hidrokarbon asetilenik sangat jarang. Crude oil mengandung sejumlah senyawaan non hidrokarbon, terutamasenyawaan Sulfur, senyawaan Nitrogen, senyawaan Oksigen, senyawaan Organo Metalik (dalam jumlah kecil/trace sebagai larutan)dan garam – garam anorganik (sebagai suspense koloidal).
Senyawaan Sulfur
Crude oil yang densitynya lebih tinggi mempunyai kandunganSulfur yang lebih tinggu pula. Keberadaan Sulfur dalam minyak bumisering banyak menimbulkan akibat, misalnya dalam gasoline dapatmenyebabkan korosi (khususnya dalam keadaan dingin atau berair),karena terbentuknya asam yang dihasilkan dari oksida sulfur (sebagaihasil pembakaran gasoline) dan air.
Senyawaan Oksigen
Kandungan total oksigen dalam minyak bumi adalah kurang dari 2% dan menaik dengan naiknya titik didih fraksi. Kandungan oksigenbisa menaik apabila produk itu lama berhubungan dengan udara.Oksigen dalam minyak bumi berada dalam bentuk ikatan sebagaiasam karboksilat, keton, ester, eter, anhidrida, senyawa monosiklo dandisiklo dan phenol. Sebagai asam karboksilat berupa asam Naphthenat (asam alisiklik) dan asam alifatik.
Senyawaan Nitrogen
Umumnya kandungan nitrogen dalam minyak bumi sangatrendah, yaitu 0,1 – 0,9 %. Kandungan tertinggi terdapat pada tipeAsphalitik. Nitrogen mempunyai sifat racun terhadap katalis dan dapatmembentuk gum / getah pada fuel oil. Kandungan nitrogen terbanyakterdapat pada fraksi titik didih tinggi. Nitrogen klas dasar yangmempunyai berat molekul yang relatif rendah dapat diekstrak denganasam mineral encer, sedangkan yang mempunyai berat molekul yangtinggi tidak dapat diekstrak dengan asam mineral encer.
Konstituen Metalik
Logam – logam seperti besi, tembaga, terutama nikel danvanadium pada proses catalytic cracking mempengaruhi aktifitaskatalis, sebab dapat menurunkan produk gasoline, menghasilkan banyak gas dan pembentukkan coke. Pada power generatortemperature tinggi, misalnya oil – fired gas turbine, adanya konstituenlogam terutama vanadium dapat membentuk kerak pada rotor turbine.Abu yang dihasilkan dari pembakaran fuel yang mengandung natriumdan terutama vanadium dapat bereaksi dengan refactory furnace (batatahan api), menyebabkan turunnya titik lebur campuran sehinggamerusakkan refractory itu. Agar dapat diolah menjadi produk-produknya, minyak bumi darisumur diangkut ke Kilang menggunakan kapal, pipa, mobil tanki ataukereta api. Didalam Kilang, minyak bumi diolah menjadi produk yangkita kenal secara fisika berdasarkan trayek titik didihnya (distilasi),dimana gas berada pada puncak kolom fraksinasi dan residu (aspal)berada pada dasar kolom fraksinasi. Tentang pengolahan minyak bumimenjadi produkproduk yang kita ketahui di pasaran dari dalam kilangakan dibahas secara khusus nanti. Setiap trayek titik didih disebut“Fraksi”, misal :0 – 50°C : Gas50 – 85°C : Gasoline85 – 105°C : Kerosin105 – 135°C : Solar > 135°C : Residu (Umpan proses lebih lanjut) Tetapi karena di alam bisa dikatakan tidak pernah ditemukanminyak bumi dalam bentuk olefin, maka minyak bumi kemudiandikelompokkan menjadi tiga jenis saja, yaitu Parafin, Naften dan Aromat. Kandungan utama dari campuran hidrokarbon ini adalah parafinatau senyawa isomernya. Isomer sendiri adalah bentuk lain dari suatusenyawa hidrokarbon yang memiliki rumus kimia yang sama.Keduanya merupakan jenis minyak bumi jenis paraffin. Sedangkan sisa kandungan hidrokarbon lainnya dalam minyakbumi adalah senyawa siklo-parafin yang disebut juga naften dan/atausenyawa aromat. Berikut adalah contoh dari siklo-parafin dan aromat.‘Keluarga hidrokarbon’ tersebut diatas disebut homologis, karena sebagian besar kandungan yang ada dalam minyak bumi tersebutdapat dipisahkan kedalam beberapa jenis kemurnian untuk keperluankomersial. Secara umum, di dalam kilang minyak bumi, pemisahanperbandingan kemurnian dilakukan terhadap hidrokarbon yangmemiliki kandungan karbon yang lebih kecil dari C7. Pada umumnyakandungan tersebut dapat dipisahkan dan diidentifikasi, tetapi hanyauntuk keperluan di laboratorium.

8.1.      Kilang Minyak
            Fasilitas industri yang mengolah minyak mentah menjadi produk petroleum yang bisa langsung digunakan maupun produk-produk lain yang menjadi bahan baku bagi industri petrokimia. Produk-produk utama yang dihasilkan dari kilang minyak antara lain: minyak nafta, bensin (gasoline), bahan bakar diesel, minyak tanah (kerosene), dan elpiji. Kilang minyak merupakan fasilitas industri yang sangat kompleks dengan berbagai jenis peralatan proses dan fasilitas pendukungnya. Selain itu, pembangunannya juga membutuhkan biaya yang sangat besar. Kilang minyak merupakan salah satu bagian downstream paling penting pada industri minyak bumi.

8.1.1    Proses Operasi Dalam Kilang Minyak
Minyak mentah yang baru dipompakan ke luar dari tanah dan belum diproses umumnya tidak begitu bermanfaat. Agar dapat dimanfaatkan secara optimal, minyak mentah tersebut harus diproses terlebih dahulu di dalam kilang minyak.
Minyak mentah merupakan campuran yang amat kompleks yang tersusun dari berbagai senyawa hidrokarbon. Di dalam kilang minyak tersebut, minyak mentah akan mengalami sejumlah proses yang akan memurnikan dan mengubah struktur dan komposisinya sehingga diperoleh produk yang bermanfaat. Secara garis besar, proses yang berlangsung di dalam kilang minyak dapat digolongkan menjadi 5 bagian, yaitu:
1.        Proses distilasi, yaitu proses penyulingan berdasarkan perbedaan titik didih; Proses ini berlangsung di kolom distilasi atmosferik dan Kolom Destilasi Vakum.
2.        Proses konversi, yaitu proses untuk mengubah ukuran dan struktur senyawa hidrokarbon. Termasuk dalam proses ini adalah:
a.    Dekomposisi dengan cara perengkahan termal dan katalis (thermal and catalytic cracking).
b.    Unifikasi melalui proses alkilasi dan polimerisasi.
c.    Alterasi melalui proses isomerisasi dan catalytic reforming.
3.        Proses pengolahan (treatment). Proses ini dimaksudkan untuk menyiapkan fraksi-fraksi hidrokarbon untuk diolah lebih lanjut, juga untuk diolah menjadi produk akhir.
4.        Formulasi dan pencampuran (blending), yaitu proses pencampuran fraksi-fraksi hidrokarbon dan penambahan bahan aditif untuk mendapatkan produk akhir dengan spesikasi tertentu.
 Proses-proses lainnya, antara lain meliputi: pengolahan limbah, proses penghilangan air asin (sour-water stripping), proses pemerolehan kembali sulfur (sulphur recovery), proses pemanasan, proses pendinginan, proses pembuatan hidrogen, dan proses-proses pendukung lainnya.

8.1.2    Proses Distilasi
            Tahap awal proses pengilangan berupa proses distilasi (penyulingan) yang berlangsung di dalam Kolom Distilasi Atmosferik dan Kolom Distilasi Vacuum. Di kedua unit proses ini minyak mentah disuling menjadi fraksi-fraksinya, yaitu gas, distilat ringan (seperti minyak bensin), distilat menengah (seperti minyak tanah, minyak solar), minyak bakar (gas oil), dan residu. Pemisahan fraksi tersebut didasarkan pada titik didihnya.
Kolom distilasi berupa bejana tekan silindris yang tinggi (sekitar 40 m) dan di dalamnya terdapat tray-tray yang berfungsi memisahkan dan mengumpulkan fluida panas yang menguap ke atas. Fraksi hidrokarbon berat mengumpul di bagian bawah kolom, sementara fraksi-fraksi yang lebih ringan akan mengumpul di bagian-bagian kolom yang lebih atas.
Fraksi-fraksi hidrokarbon yang diperoleh dari kolom distilasi ini akan diproses lebih lanjut di unit-unit proses yang lain, seperti: Fluid Catalytic Cracker, dan lain-lain.

IX.       TATA LAKSANA
9.1 WAKTU
Kegiatan magang (kerja praktek) akan dilaksanakan pada tanggal 01 Desember 2016 hingga 20 Desember 2016.
9.2 LOKASI
Lokasi magang yaitu PT. PERTAMINA(Persero) yang berlokasi di Pertamina Unit Pengolahan IV Cilacap.

X.        METODOLOGI
Metodologi yang digunakan dalam magang ini adalah :
1.      Studi Lapangan
Meliputi pengamatan, peninjauan dan melihat langsung proses produksi, serta wawancara pihak terkait dan dilanjutkan dengan menyusun laporan.
2.      Studi Pustaka
Meliputi pengambilan rujukan-rujukan laporan dari berbagai buku pada perpustakaan kampus, perusahaan dan lain-lain yang menunjang.

XI.       LAPORAN
Laporan pelaksanaan magang akan disusun dalam bentuk laporan tertulis
setelah kegiatan selesai dilaksanakan dengan bimbingan dosen pembimbing.

XII.     RENCANA JADWAL KEGIATAN MAGANG (KERJA PRAKTEK) PADA PT. PERTAMINA (PERSERO), CILACAP

No.
Jenis Kegiatan
Minggu 1

Minggu 2
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
1
Pengamatan Lapangan(Observasi)
















PPC
X














IRM

X













Produksi


X












Quality



X











Logistik




X










Engineering





X









Meintenance








X



X


Die Shop









X

X



2
Pengumpulan Data










X




3
Mengecek ulang kelengkapan data